Visi Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Visi pendidikan Islam yang diaplikasikan oleh Rasulullah Saw sesungguhnya melekat pada cita-cita dan tujuan jangka panjang ajaran Islam itu sendiri, yaitu mewujudkan rahmat bagi seluruh manusia, sesuai dengan firman Allah berikut ini:
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”[1]
Tafsir ayat tersebut, oleh Imam Al Maraghi ditafsirkan sebagai berikut: “Bahwa maksud ayat yang artinya: Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, adalah bahwa tidaklah aku utus engkau Muhammad dengan al Qur’an ini, serta berbagai perumpamaan dari ajaran agama dan hukum yang menjadi dasar rujukan untuk mencapai bahagia dunia dan akhirat, melainkan agar menjadi rahmat dan petunjuk bagi mereka dalam segala urusan kehidupan dunia dan akhiratnya.”
Kedatangan Rasulullah Saw adalah rahmat bagi umat manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk-makhluk lainnya. Rasulullah membawa ajaran tentang persamaan, persatuan dan kemuliaan umat manusia, bagaimana tata cara hubungan manusia sesama manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antara agama. Beliau juga mengajarkan tentang persaudaraan, perdamaian, keadilan, tolong menolong, tata hidup berkeluarga, bertetangga dan bermasyarakat dan lain sebagainya.
Rasulullah Saw melarang manusia berbuat sewenang-wenang, sekalipun terhadap binatang. Binatang diciptakan antara lain untuk dimafaatkan oleh manusia, bukan untuk disakiti atau disengsarakan, dan bukan pula untuk diperjudi dan dipermainkan. Rasulullah mengajarkan, kalau engkau menyembelih binatang ternak, lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Jangan dicekik, ditusuk atau dipukul. Sembelihlah dengan pisau yang tajam.
Rasulullah Saw juga mengajarkan kepada umat manusia untuk memanfaatkan lingkungan hidup dan menjaga kelestariannya. Dalam peperangan sekalipun, tentatara Islam dilarang merusak tanaman-tanaman dan tumbuh-tumbuhan tanpa manfaat. Dengan demikian, visi utama pendidikan Islam Rasulullah Saw adalah memberi rahmat bagi seluruh alam.
Misi Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Misi pendidikan Islam zaman Rasulullah Saw antara lain:
- Mendorong timbulnya kesadaran umat manusia agar mau melakukan kegiatan belajar dan mengajar
Hal ini sejalan dengan firman Allah sebagai berikut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”[2]
Perintah membaca sebagaimana terdapat pada ayat tersebut sungguh mengejutkan untuk masyarakat Arab saat itu, karena membaca belum menjadi budaya mereka. Budaya mereka ialah menghafal, yakni manghafal syair-syair yang di dalamnya memberikan ajaran yang harus mereka jalani. Membaca dalam ayat tersebut selain berarti menghimpun atau mengumpulkan informasi dengan melihat huruf-huruf, kata-kata dan kalimat dalam sebuah buku atau referensi lainnya, juga mencakup pula meneliti, mengamati, mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengategorisasi, menyimpulkan, dan memverifikasi. Dengan membaca ini timbullah kegiatan penggalian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang membawa kemajuan bangsa.
- Melaksanakan kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat
Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah Saw, yaitu:
“Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat.”[3]
Hadits tersebut mengandung isyarat tentang konsep belajar seumur hidup, yaitu belajar dan mengajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas saja, melainkan di mana saja dan pada berbagai kesempatan. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan integrated, yaitu belajar dan mengajar yang menyatu dengan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat.
- Melaksanakan program wajib belajar
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw, yaitu:
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Kata ilmu sebagaimana terdapat dalam hadits tersebut adalah pengetahuan yang telah didukung oleh data dan fakta yang shahih dan disusun berdasarkan metode ilmiah, yaitu metode yang sistematis, objektif, komprehensif, dan rasional.
- Melaksanakan program Pendidikan Anak Usia Dini
Program pendidikan anak usia dini ini berdasarkan pada hadits dan isyarat Rasulullah Saw yang terkait dengan membangun rumah tangga, serta berbagai kewajiban orang tua terhadap anaknya. Rasulullah Saw misalnya menganjurkan agar seorang pria memilih wanita calon istri yang taat beragama, shalehah, dan berakhlak mulia. Menikahi sesuai dengan tuntunan agama dan menggaulinya dengan cara yang makruf, yaitu etis, sopan, dan saling mencintai dan manyayanginya.
Kemudian suami istri banyak berdoa kepada Allah pada saat istri mengandung (hamil), yakni doa agar dikaruniai anak yang shaleh dan shalehah, mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak beribadah, amal shaleh dan berakhlak mulia, serta memelihara kesehatan fisik dengan makan yang halal dan bergizi, serta istirahat yang cukup.
Selanjutnya, mengazani pada telinga kanan, dan mengikomati pada telinga kiri pada saat bayi lahir, memberi makanan yang halal, baik dan bergizi, seperti madu, kurma dan air susu ibu, memberi nama yang baik, mencukur rambutnya, membiasakan bertingkah laku sopan terhadap orang tua, kakek, nenek dan saudara-saudaranya, memberikan perhatian dan kasih saying cukup, mengajari bacaan al Qur’an, membisakan shalat, dan mencegah serta memeliharanya dari pergaulan dan pengaruh buruk. Semua perlakuan suami istri terhadap anaknya ini memiliki arti dan fungsi yang sangat besar bagi tumbuhnya pribadi anak yang shaleh dan shalehah, serta berkepribadian yang utuh dan sempurna.
- Mengeluarkan manusia dari kehidupan dzulumat (kegelapan) kepada kehidupan yang terang benderang.
Hal ini sejalan dengan berfirman firman Allah berikut:
“Alif, laam raa. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”[4]
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al Quran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.”[5]
Berdasarkan pada ayat-ayat tersebut, terdapat beberapa catatan sebagai berikut: Pertama, adanya perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. Kegelapan pada ayat ini dapat mengandung arti kebodohan, karena orang yang bodoh tidak dapat menjelaskan berbagai hal dalam kehidupan yang amat luas dan kompleks. Adapun cahaya yang terang benderang dapat diartikan ilmu pengetahuan, karena dengan ilmu pengetahuan itulah semua kejadian dan peristiwa dalam kehidupan dapat dijelaskan. Di kalangan ulama terdapat pemikiran yang mengibaratkan ilmu seperti cahaya, dan dengan cahaya ini kehidupan menjadi bermakna, berkualitas, dan memperoleh kemudahan. Misi Nabi Muhammad Saw ini selanjutnya diamanatkan kepada para ulama, termasuk kepada pendidik.
Kedua, bahwa sumber ilmu pengetahuan (cahaya) yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan tersebut yaitu al Qur’an yang telah banyak dikaji isi dan kandungannya oleh para ulama. Al Qur’an juga bukan hanya bicara masalah urusan keakhiratan, tetapi urusan duniawi; bukan hanya berisi ajaran yang berkaitan dengan pembinaan spiritual dan moral, malainkan juga pembinaan intelektual, sosial, dan jasmani. Seluruh aspek kehidupan manusia dibina secara utuh dan manyeluruh secara seimbang, harmonis, serasi dan proporsional.
- Memberantas sikap Jahiliyah
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut:
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”[6]
Menurut Imam al Maraghi bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perjanjian Hudaibiyah. Sikap jahiliyah juga dapat dilihat dari kekeliruan pola pikir (mindset) yang mereka terapkan dalam kehidupan. Mereka, misalnya menjadikan sesuatu yang sesungguhnya tidak dapat memberikan manfaat apa pun, sebagai Tuhan. Mereka menyembah patuh berhala, memuja benda-benda alam, dan sebagainya. Mereka sungguh tidak cerdas, karena dengan menyembah berbagai patung berhala tersebut berarti merendahkan diri mereka sendiri. Seungguh pun benda-benda tersebut mengandung berbagai keistimewaan, seharusnya dilihat sebagai kekuasaan Tuhan, bukan untuk disembahnya.
Sikap jahiliyah juga dapat dilihat dari pola pikir mereka yang mengangap benda-benda keduniaan yang tidak kekal sebagai sesuatu yang dipuja-puja dan diagungkan, bahkan dipertahankannya walau pun harus mengorbankan jiwa, raga, memutuskan tali kekeluargaan, bahkan menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Dengan demikian, makna jahiliyah bukan berarti bodoh dalam arti idiot, melainkan bodoh dalam arti memilih pola pikir yang keliru. Yaitu lebih memilih harta, takhta, dan kasta, dari pada kebenaran yang akan menyelamatkan kehidupannya di dunia dan akhirat.
- Menyelamatkan manusia dari tepi jurang kehancuran yang disebabkan karena pertikaian
Ketika Islam datang, keadaan dunia seperti baru saja dilanda ‘gempa’ dan ‘tsunami’. Kehidupan mereka dalam bidang sosial, ditandai oleh adanya kelompok suku, kabilah, dan etnis yang antara satu dan lainnya tidak bersatu dan sering berperang. Dalam bidang politik, ditandai oleh kekuasaan otoriter dan diktator yang didasarkan pada ketinggian dalam bidang harta, tahta, dan kasta. Dalam ekonomi, ditandai oleh praktek riba, monopoli, rentenir, saling menipu satu sama lain. Dalam bidang budaya, ditandai oleh budaya yang memuaskan hawa nafsu. Dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, ditandai oleh keterbatasan dan monopoli kaum elite. Pendidikan dan ilmu pengetahuan hanya milik kaum elite, sedangkan rakyat pada umumnya dibiarkan dalam keadaan bodoh. Dalam bidang agama, ditandai oleh praktek syirik memuja selain Allah.
Keadaan masyarakat seperti inilah yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw di Mekkah dan Madinah pada khususnya, dan di dunia pada umumnya. Masyarakat tersebut berhasil diperbaiki dan diluruskan oleh Nabi Muhammad Saw dalam waktu yang relatif singkat. Misi kerasulan Nabi Muhammad oleh para ahli sejarah dinilai sebagai yang paling berhasil dibandingkan dengan misi kerasulan yang dibawa oleh para nabi dan rasul lainnya.
- Melakukan pencerahan batin kepada manusia agar sehat rohani dan jasmaninya
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan Kami turunkan dari al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”[7]
Ayat tersebut berbicara tentang salah satu misi Rasulullah Saw yang terkandung dalam al Qur’an, yaitu memperbaiki mental dan pola pikir (mindset) masyarakat, sebagai modal utama bagi perbaikan di bidang lain. Islam mengingatkan bahwa antara jiwa dan raga memiliki hubungan fungsional simbiotik, yaitu saling menopang dan mempengaruhi. Jiwa yang sehat akan mempengaruhi fisik, dan fisik yang sehat akan mempengaruhi jiwa.
Dengan demikian, jika jiwa yang sakit, seperti jiwa yang di dalamnya terdapat penyakit munafik, buruk sangka, iri hati, dengki, dendam, sombong, merasa paling hebat (‘ujub), suka berdusta, fitnah, adu domba, dan sebagainya, maka keadaan masyarakat menjadi kacau balau. Keadaan jiwa yang demikian itulah yang diperbaiki oleh Rasulullah Saw melalui kegiatan pendidikan.
- Menyadarkan manusia agar tidak melakukan perbuatan yang menimbulkan bencana di muka bumi, seperti permusuhan dan peperangan
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”[8]
Sebagai akibat dari jiwa yang sakit, sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka terjadilah berbagai perbuatan dan tindakan yang merusak masyarakat, seperti mengadu domba, memfitnah, saling menipu, menyerang, menjarah, menjajah, berperang, dan sebagainya. Alam dengan segala kekayaannya dapat menjadi rusak jika berada di tangan orang-orang yang sakit jiwanya, yakni orang yang tamak, serakah, boros, berlebih-lebihan, dan sebagainya. Keadaan inilah yang berhasil diubah oleh Rasulullah Saw.
- Mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”[9]
Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam struktur fisik dan psikis yang lengkap dan sempurna. Manusia memiliki pancaindra yang lengkap, serasi, dan proporsional letaknya. Manusia memiliki akal (kemampuan berpikir), hati nurani, kecerdasan, bakat, minat, perasaan sosial, dan sebagainya. Dengan kelengkapan jasmani dan rohani inilah, manusia dapat mengerjakan tugas-tugas yang berat, menciptakan kebudayaan dan peradaban, menguasai daratan, lautan dan udara, dan sebagainya. Semua ini terjadi jika berbagai potensi manusia tersebut dibina dan dikembangkan melalui pendidikan.
Tujuan Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Manusia yang berakhlak mulia harus menjadi sasaran proses pendidikan Islam karena itulah juga sebagai tujuan utama pendidikan Islam Rasulullah Saw. Berkenaan dengan akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan dapat dilihat dari ayat dan hadits-hadits berikut ini:
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”[10]
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”[11]
Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah Saw berkata: “Sesungguhnya Allah mengutusku dengan tugas membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan pekerjaan.”[12]
Abdullah bin Amr, berkata bahwa Rasulullah Saw bukan seorang yang keji dan bukan pula bersikap keji. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.”[13]
Berdasarkan ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan dengan tegas bahwa tujuan utama pendidikan Rasulullah Saw adalah memperbaiki akhlak manusia. Beliau melaksanakan tujuan tersebut dengan cara menghiasi dirinya dengan berbagai akhlak yang mulia dan menganjurkan agar umatnya senantiasa menerapkan akhlak tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Bahkan secara tegas, beliau menyatakan bahwa kualitas iman seseorang itu dapat diukur dengan akhlak yang ditampilkannya.[14] Itu berarti bahwa semakin bagus kualitas iman seseorang akan semakin baik pula akhlaknya. Dengan kata lain, akhlak seseorang yang jelek merupakan pertanda bahwa imannya tidak bagus.
Rasulullah Saw adalah perwujudan riil “al Qur’an yang berjalan”. Diriwayatkan oleh Muslim, bahwa ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah maka beliau menjawab, “Akhlak Rasulullah adalah al Qur’an.” Untuk itulah, Rasulullah diperintahkan untuk membentuk al Qur’an, al Qur’an berjalan atau manusia-manusia rabbani, yaitu manusia-manusia yang memiliki akhlak mulia berdasarkan nilai-nilai rabbaniyyah (Ketuhan-an).
Rasulullah Saw telah memperlihatkan akhlak yang mulia sepanjang hidupnya. Muhammad Athiyah al Abrasyi mengemukakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah yang paling baik tingkah lakunya, pemuda yang paling bersih, manusia yang paling zuhud dalam hidupnya, hakim yang paling adil dalam memutuskan perkara, prajurit yang paling berani dalam membela kebenaran, ikutan yang terbaik bagi orang-orang saleh dan para pendidik. Pribadi beliau merupakan presentasi akhlak yang sesuai dengan al Qur’an.
Mukhtar Yahya berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah memberikan pemahaman ajaran-ajaran Islam pada peserta didik dan membentuk keluhuran budi pekerti sebagaimana tujuan Rasulullah Saw sebagai pengemban perintah menyempurnakan akhlak manusia, untuk memenuhi kebutuhan kerja.
Bila tujuan utama Rasulullah Saw adalah menyempurnakan kemuliaan akhlak, maka proses pendidikan seyogianya diarahkan menuju terbentuknya pribadi dan umat yang berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan penegasan Allah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah teladan utama bagi umat manusia.[15] Untuk mencapai hal itu, akhlak mulia harus ditegaskan dalam formulasi tujuan pendidikan.
Islam sebagai agama yang seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan manusia tidak hanya melibatkan peran manusia semata, melainkan juga melibatkan peran Tuhan. Nabi Muhammad Saw menggambarkan proses pendidikan seperti sebuah kegiatan bertani. Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang baik, maka ia harus menyiapkan lahan yang subur dan gembur, udara dan cuaca yang tepat, air dan pupuk yang cukup, bibit yang unggul, cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan tanaman yang benar dan intensif, waktu dan masa tanam yang tepat dan cukup. Namun meski berbagai usaha tersebut telah dilakukan, tetapi belum dapat menjamin seratus persen bahwa hasil pertanian tersebut akan berhasil dengan baik.
Tanah yang subur dan gembur serta bibit yang unggul dapat digambarkan seperti bakat dan potensi peserta didik yang bersifat internal. Adapun cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan yang tepat dan intensif dan pemberian pupuk yang cukup dapat digambarkan seperti usaha dan program pendidikan yang dilakukan oleh sekolah dan guru. Adapun keberhasilan pertanian menggambarkan peranan Tuhan. Dengan demikian, maka pendidikan Islam menganut paham teo-anthropo centris, yaitu memusatkan pada perpaduan antara kehendak Tuhan dan usaha manusia.
Dengan demikian, pendidikan Islam seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan, dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan Islam seharusnya pelayanan bagi pertumbuhan bagi manusia dalam segala aspeknya yang meliputi aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individu, maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek tersebut kepada kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan bertumpu pada terealisasinya ketundukan kepada Allah baik dalam level individu, komunitas, dan manusia secara luas.
[1] QS. Al Anbiya’ (21): 107
[2] QS. Al Alaq (96): 1-5
[3] Shahih al Bukhari dan Shahih Muslim
[4] QS. Ibrahim (14): 1
[5] QS. Al Hadid (57): 9
[6] QS. Al Fath (48): 26
[7] QS. Al Isra’ (17): 82
[8] QS. Al A’raf (7): 56
[9] QS. Al Isra’ (17): 70
[10] QS. Al Qalam (68): 4
[11] HR. al Baihaqi. Sunan al Baihaqi. Juz 2, 472, dalam al Maktabah al Syamilah
[12] HR. Al Thabrani. al Mu’jam al Awsath, Juz 7, 74, dalam al Maktabah al Syamilah
[13] Shahih al Bukhari, Juz 4, no. 2444 dan Shahih Muslim, Juz 4, no. 1810
[14] Sesuai dengan maksud hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad (lihat Abu Daud, Juz 13: 412; Turmizi, Juz 5: 5; dan Ahmad, Juz 16: 138)
[15] Lihat juga QS. Al Ahzab (33): 21



joko
24 September 2011 at 4:59 am
menurut saya berbagi ilmu merupakan hal yang baik bagi seorang muslim yang baik
imron fauzi
29 September 2011 at 4:10 pm
terima kasih…
Bidasar Daulay
15 Januari 2012 at 4:29 am
thanks ya buat tulisannya,klu bisa tlg di share dong ttg methode pend.yg dilaksanakan oleh Rasulullah!
imron fauzi
19 Januari 2012 at 2:31 am
masalah metode pendidikan yg dilaksanakan oleh Rasulullah, itu udah saya bentuk buku, yg insyaallah 1 bulan lagi akan diterbikan Ar-Ruzz Media Yogya, dgn judul Manajemen Pendidikan Rasulullah.
alfan
12 Maret 2012 at 7:13 am
askm. adakah Manajemen strategis dalam Hijrah dan implementasinya dalam pendidikan islam?
imron fauzi
12 Maret 2012 at 12:54 pm
Coba antum lihat juga:
http://mahluktermulia.wordpress.com/2010/12/05/manajemen-rasulullah-saw-dalam-bidang-pendidikan/
Atau lebih lengkapnya, lihat buku saya yg berjudul “Manajemen Pendidikan Rasulullah (Telaah Pola Pendidikan Islam Era Rasulullah)”
Lia Yx C'lalu Merenunxz
20 April 2013 at 2:56 am
thank you